Kanker Ovarium

DAFTAR ISI
- Apa Itu Kanker Ovarium?
- Penyebab Kanker Ovarium
- Faktor Risiko Kanker Ovarium
- Gejala Kanker Ovarium
- Hubungi Dokter Ini Jika Mengidap Gejala Kanker Ovarium
- Diagnosis Kanker Ovarium
- Pengobatan Kanker Ovarium
- Komplikasi Kanker Ovarium
- Pencegahan Kanker Ovarium
- Kapan Harus ke Dokter?
Apa Itu Kanker Ovarium?
Kanker ovarium adalah jenis kanker yang bermula di ovarium atau indung telur wanita. Ovarium adalah оргаn reproduksi wanita yang berbentuk kecil dan terletak di kedua sisi rahim. Mereka bertanggung jawab untuk menghasilkan sel telur dan hormon wanita seperti estrogen dan progesteron. Kanker ovarium seringkali disebut sebagai “pembunuh diam-diam” karena gejalanya seringkali tidak jelas atau muncul pada stadium lanjut penyakit. Memahami kanker ovarium adalah langkah awal penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Jenis-Jenis Kanker Ovarium
Terdapat beberapa jenis kanker ovarium, yang diklasifikasikan berdasarkan jenis sel tempat kanker itu berasal:
- Kanker Ovarium Epitel: Jenis kanker ovarium yang paling umum, berasal dari sel-sel epitel yang melapisi permukaan luar ovarium. Subtipe yang paling sering adalah karsinoma serosa dan karsinoma musinosa.
- Kanker Ovarium Stroma: Berasal dari sel stroma ovarium yang menghasilkan hormon. Jenis ini lebih jarang terjadi dibandingkan kanker epitel.
- Kanker Sel Germinal Ovarium: Jenis kanker ovarium yang langka, berkembang dari sel germinal yang menghasilkan sel telur. Lebih sering terjadi pada wanita usia muda.
Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Ovarium
Penyebab pasti kanker ovarium adalah belum sepenuhnya dipahami, tetapi beberapa faktor risiko telah diidentifikasi dapat meningkatkan kemungkinan seorang wanita terkena penyakit ini:
- Usia: Risiko kanker ovarium meningkat seiring bertambahnya usia, paling sering didiagnosis pada wanita berusia 50-70 tahun dan pasca menopause.
- Riwayat Keluarga Kanker Ovarium atau Kanker Payudara: Wanita dengan riwayat keluarga kanker ovarium, kanker payudara, atau kanker kolorektal memiliki risiko lebih tinggi, terutama jika terkait dengan mutasi gen BRCA1 dan BRCA2.
- Mutasi Genetik: Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2, serta gen lain seperti PTEN, TP53, dan gen terkait sindrom Lynch, secara signifikan meningkatkan risiko kanker ovarium.
- Tidak Pernah Hamil atau Melahirkan (Nulliparity): Wanita yang belum pernah hamil atau melahirkan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan wanita yang pernah hamil.
- Terapi Penggantian Hormon (HRT) Pasca Menopause: Penggunaan terapi hormon pengganti setelah menopause, terutama estrogen saja dalam jangka panjang, dapat sedikit meningkatkan risiko.
- Obesitas: Wanita dengan obesitas (Indeks Massa Tubuh atau BMI 30 atau lebih tinggi) memiliki risiko lebih tinggi.
- Endometriosis: Kondisi di mana jaringan mirip lapisan rahim tumbuh di luar rahim, dapat sedikit meningkatkan risiko beberapa jenis kanker ovarium.
- Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS): Beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko kanker ovarium pada wanita dengan PCOS.
- Penggunaan Bedak Talkum di Area Genital: Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan bedak talkum di area genital dalam jangka panjang dengan peningkatan risiko kanker ovarium, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan.
Gejala Kanker Ovarium
Sayangnya, kanker ovarium adalah penyakit yang seringkali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada stadium awal. Gejala awal mungkin ringan dan mudah diabaikan atau disalahartikan sebagai kondisi lain yang lebih umum. Ketika gejala muncul, mereka dapat bervariasi tetapi yang paling umum meliputi:
- Perut kembung atau terasa penuh: Perasaan kembung atau penuh di perut yang tidak hilang.
- Nyeri panggul atau perut: Nyeri atau rasa tidak nyaman di area panggul atau perut.
- Kesulitan makan atau merasa cepat kenyang: Merasa kenyang dengan cepat saat makan, atau kehilangan nafsu makan.
- Sering buang air kecil atau merasa ingin selalu buang air kecil: Perubahan kebiasaan buang air kecil.
- Perubahan siklus menstruasi: Siklus menstruasi yang tidak teratur atau perdarahan di luar siklus menstruasi.
- Kelelahan yang tidak biasa: Merasa sangat lelah tanpa alasan yang jelas.
- Sakit punggung: Nyeri punggung yang tidak terkait dengan masalah otot atau tulang.
- Sembelit atau perubahan kebiasaan buang air besar: Perubahan pada fungsi usus.
- Nyeri saat berhubungan seksual (Dispareunia)
- Penambahan atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Penting untuk diingat bahwa gejala-gejala ini tidak spesifik untuk kanker ovarium dan dapat disebabkan oleh kondisi lain yang tidak berbahaya. Namun, jika Anda mengalami gejala-gejala ini secara persisten dan tidak membaik, sangat penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.
Diagnosis Kanker Ovarium
Jika dokter mencurigai adanya kanker ovarium adalah, beberapa tes dan prosedur diagnostik mungkin akan dilakukan:
- Pemeriksaan Panggul: Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik panggul untuk memeriksa adanya kelainan pada ovarium atau оргаn reproduksi lainnya.
- Tes Darah CA-125: Tes darah untuk mengukur kadar Cancer Antigen 125 (CA-125), protein yang sering meningkat pada wanita dengan kanker ovarium epitel. Namun, CA-125 juga dapat meningkat pada kondisi non-kanker, dan tidak semua kanker ovarium meningkatkan kadar CA-125.
- Pemeriksaan Pencitraan:
- USG Transvaginal: Menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar ovarium dan оргаn panggul lainnya.
- CT Scan atau MRI: Dapat membantu menentukan apakah kanker telah menyebar ke luar ovarium.
- PET Scan: Dapat digunakan untuk mendeteksi penyebaran kanker yang lebih luas.
- Biopsi: Satu-satunya cara pasti untuk mendiagnosis kanker ovarium adalah melalui biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan ovarium untuk diperiksa di bawah mikroskop. Biopsi biasanya dilakukan selama operasi.
- Tes Genetik: Jika ada riwayat keluarga kanker ovarium atau payudara, tes genetik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi mutasi gen BRCA atau gen terkait lainnya.
Stadium Kanker Ovarium
Setelah diagnosis kanker ovarium ditegakkan, stadium kanker akan ditentukan untuk mengetahui sejauh mana penyebaran kanker. Stadium kanker ovarium berkisar dari stadium I (kanker terbatas pada ovarium) hingga stadium IV (kanker telah menyebar jauh ke оргаn lain). Stadium kanker akan mempengaruhi pilihan pengobatan dan prognosis.
Pencegahan Kanker Ovarium
Tidak ada cara pasti untuk mencegah kanker ovarium adalah, tetapi ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko:
- Pil Kontrasepsi Oral: Penggunaan pil kontrasepsi oral dalam jangka panjang telah terbukti menurunkan risiko kanker ovarium.
- Kehamilan dan Menyusui: Kehamilan dan menyusui telah dikaitkan dengan penurunan risiko kanker ovarium.
- Salpingo-ooforektomi Profilaksis: Pada wanita dengan risiko genetik tinggi (misalnya, mutasi BRCA), pengangkatan preventif ovarium dan tuba falopi dapat dipertimbangkan setelah selesai memiliki anak.
Gaya Hidup Sehat: Mempertahankan berat badan ideal, diet sehat, dan olahraga teratur secara umum baik untuk kesehatan dan mungkin membantu mengurangi risiko kanker.
Hubungi Dokter Ini Jika Mengidap Gejala Kanker Ovarium
Apabila kamu atau orang terdekat mengalami gejala kanker ovarium, segera hubungi dokter di Halodoc untuk mendapat saran perawatan dan penanganan yang tepat.
Gejala tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja sehingga harus mendapat penanganan dari dokter ahli sesegera mungkin.
Dokter di Halodoc telah berpengalaman serta mendapatkan penilaian baik dari pasien yang sebelumnya mereka tangani.
Berikut dokter di Halodoc yang bisa kamu hubungi:
Bedah Onkologi:
Kebidanan dan Kandungan:
Itulah beberapa dokter spesialis bedah onkologi dan kebidanan yang bisa kamu hubungi untuk bantu tangani gejala kanker ovarium. Jangan ragu untuk segera menghubungi dokter agar kondisi tersebut dapat segera ditangani.
Dokter tersebut tersedia selama 24 jam di Halodoc sehingga kamu bisa lakukan konsultasi dari mana saja dan kapan saja.
Namun, jika dokter sedang tidak tersedia atau offline, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi melalui aplikasi Halodoc.
Tunggu apalagi? Ayo, pakai Halodoc sekarang juga!
Diagnosis Kanker Ovarium
Dokter perlu meninjau gejala, riwayat kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik. Kemudian, pemeriksaan penunjang dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Jenis tes yang dapat dilakukan meliputi:
- Pemeriksaan panggul. Selama pemeriksaan panggul, dokter perlu memasukkan jari-jari ke dalam vagina dan menekan perut dengan tangan untuk merasakan (meraba) organ panggul secara bersamaan. Dokter juga secara visual memeriksa alat kelamin luar, vagina, dan leher rahim.
- Pencitraan. Tes, seperti USG atau CT scan perut dan panggul dapat membantu menentukan ukuran, bentuk dan struktur ovarium.
- Tes darah. Termasuk di antaranya adalah tes fungsi organ yang dapat membantu menentukan kesehatan secara keseluruhan.
- Prosedur tes genetik. Dokter dapat melakukan pengujian sampel darah untuk mencari perubahan gen yang meningkatkan risiko.
Pengobatan Kanker Ovarium
Penanganan kanker ovarium bisa berbeda-beda pada setiap kasus. Sebab, pilihan pengobatannya ditentukan melalui stadium kanker, kondisi kesehatan, dan keinginan pengidap untuk memiliki keturunan.
Penanganan utamanya adalah melalui operasi, kemoterapi, ataupun radioterapi.
1. Operasi
Prosedur operasi biasanya meliputi pengangkatan kedua ovarium, tuba falopi, rahim, dan omentum (jaringan lemak dalam perut). Operasi ini juga bisa melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening pada panggul dan rongga perut untuk mencegah dan mencari tahu jika ada penyebaran kanker. Dengan pengangkatan kedua ovarium dan rahim, pengidap tidak lagi dapat memiliki keturunan
Namun, lain halnya dengan kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium dini. Pengidapnya mungkin hanya akan menjalani operasi pengangkatan salah satu ovarium dan tuba falopi sehingga kemungkinan untuk memiliki keturunan masih ada.
2. Kemoterapi
Kemoterapi dapat dijadwalkan setelah operasi dan ini dilakukan untuk membunuh sel-sel kanker yang tersisa. Selama menjalani kemoterapi, dokter akan memantau perkembangan pengidap secara rutin guna memastikan keefektifan obat dan respons tubuh terhadap obat.
Prosedur ini juga dapat diberikan sebelum operasi pada pengidap stadium lanjut dengan tujuan mengecilkan tumor sehingga memudahkan prosedur pengangkatan.
Setiap pengobatan berisiko menimbulkan efek samping, begitu pula dengan kemoterapi. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah melakukan proses kemoterapi di antaranya tidak nafsu makan, mual, muntah, lemas, rambut rontok, dan meningkatnya risiko infeksi.
3. Radioterapi
Di samping operasi dan kemoterapi, radioterapi merupakan tindakan lain yang bisa menjadi alternatif. Dalam radioterapi, sel-sel kanker dibunuh menggunakan radiasi dari sinar X.
Sama seperti kemoterapi, radioterapi dapat dokter berikan baik setelah maupun sebelum operasi. Efek sampingnya juga serupa dengan kemoterapi, terutama terjadinya kerontokan rambut.
Selain ketiga metode pengobatan tersebut, terdapat cara lain yang bisa dokter lakukan, yaitu dengan melakukan terapi maintenance.
Terapi maintenance untuk kanker ovarium adalah pengobatan yang dokter berikan untuk mencegah kembalinya kanker ovarium setelah perawatan awal dengan kemoterapi. Tujuannya adalah untuk memperpanjang waktu antara perawatan awal dan kekambuhan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah menyetujui perawatan berikut untuk terapi maintenance kanker ovarium:
1. Inhibitor PARP (Poly ADP-Ribose Polymerase Inhibitors)
Obat-obatan ini bekerja dengan menghambat enzim PARP yang membantu memperbaiki DNA yang rusak pada sel kanker. Dengan menghambat PARP, sel-sel kanker mengalami lebih banyak kerusakan DNA dan akhirnya mati. Contoh obat PARP inhibitor adalah olaparib, niraparib, dan rucaparib.
2. Inhibitor angiogenesis
Inhibitor angiogenesis adalah kelas obat yang melawan kanker dengan cara menghalangi kemampuan sel untuk membentuk pembuluh darah baru. Berbagai inhibitor angiogenesis akan dokter gunakan untuk mengobati berbagai jenis kanker.
Inhibitor angiogenesis seperti bevacizumab bisa dokter berikan melalui infus intravena (IV) setiap 2 hingga 3 minggu.
Jika kamu mengalami kanker ovarium, Ini Dokter yang Bisa Bantu Perawatan Kanker Ovarium
Komplikasi Kanker Ovarium
Sejumlah risiko komplikasi kanker ovarium meliputi:
- Peningkatan risiko infeksi akibat kerusakan sel darah putih.
- Mudah mengalami memar atau pendarahan akibat kerusakan trombosit.
- Menopause dini.
- Kehilangan kesuburan.
- Leukimia karena sumsum tulang rusak akibat pengobatan kemoterapi.
- Kerusakan ginjal permanen.
- Sakit saraf.
- Gangguan pendengaran.
- Perforasi.