Pemeriksaan Fungsi Hati
Ada beberapa cara sebagai langkah pemeriksaan fungsi hati.

Untuk menilai kondisi hati dan mendeteksi adanya gangguan, diperlukan tes fungsi hati.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran kondisi hati secara menyeluruh serta mengidentifikasi kemungkinan adanya penyakit hati, seperti kanker hati, hepatitis, atau sirosis hati.
Tes fungsi hati umumnya dilakukan dengan pengambilan sampel darah untuk menganalisis kadar berbagai senyawa kimia yang diproduksi oleh hati.
Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menentukan apakah ada senyawa yang kadarnya terlalu tinggi atau terlalu rendah, yang dapat menjadi indikasi adanya masalah kesehatan.
Berikut adalah beberapa senyawa yang biasanya diukur dalam tes darah untuk menilai fungsi hati:
1. Alanin Transaminase (ALT)
ALT adalah enzim yang berperan dalam pemrosesan protein dalam tubuh. Jika kadar ALT dalam darah meningkat, hal ini dapat menandakan adanya cedera atau peradangan pada hati, seperti pada penderita hepatitis.
2. Gamma-Glutamyl Transferase (GGT)
Meskipun GGT diproduksi oleh hati, enzim ini juga ditemukan di beberapa organ lain, seperti pankreas, ginjal, dan otak.
Pemeriksaan GGT biasanya dilakukan bersamaan dengan uji fungsi hati lainnya. Tes ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya gangguan pada saluran hati atau empedu.
3. Aspartat Aminotransferase (AST)
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur kadar AST, enzim yang terdapat di dalam hati. Jika kadar AST meningkat, hal ini bisa menjadi tanda adanya kerusakan atau gangguan pada liver.
Pemeriksaan Tambahan untuk Fungsi Hati
Selain tes darah, ada metode diagnostik lain yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi hati, yaitu pemeriksaan pencitraan.
Tes pencitraan digunakan sebagai metode tambahan dalam mendiagnosis penyakit hati, terutama untuk mendeteksi ukuran tumor atau jaringan parut yang terbentuk di hati.