Operasi Bariatrik: Manfaat, Prosedur dan Risiko
Operasi bariatrik adalah tindakan medis untuk menurunkan berat badan bagi pengidap obesitas.

DAFTAR ISI
- Manfaat Tindakan Operasi Bariatrik
- Prosedur Operasi Bariatrik
- Risiko Tindakan Operasi Bariatrik yang Mungkin Terjadi
- Apa Kata Studi tentang Manfaat dan Komplikasi Operasi Bariatrik?
Operasi bariatrik adalah prosedur bedah yang bertujuan untuk membantu mengatasi obesitas dengan mengubah sistem pencernaan. Prosedur ini dapat menurunkan berat badan secara signifikan dan berkontribusi pada perbaikan kondisi medis terkait obesitas.
Meskipun menawarkan berbagai manfaat, seperti penurunan berat badan yang efektif dan peningkatan kesehatan, operasi bariatrik juga memiliki risiko dan efek samping tertentu.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur ini, penting untuk memahami informasi lengkapnya, mulai dari manfaat dan jenis prosedur hingga risikonya terhadap kesehatan.
Manfaat Tindakan Operasi Bariatrik
Setidaknya 90 persen pasien yang menjalani operasi bariatrik mengalami penurunan berat badan sekitar 50 persen. Namun, hasilnya dapat bervariasi tergantung pada jenis operasi yang dilakukan. Contohnya:
- Bypass lambung dapat mengurangi sekitar 70 persen berat badan berlebih.
- Duodenal switch dapat menghilangkan setidaknya 80 persen berat badan berlebih.
- Sleeve gastrectomy atau gastrektomi lengan dapat membantu pasien menurunkan antara 30 hingga 80 persen berat badan total.
Dokter biasanya mengukur hasil penurunan berat badan ini dalam rentang waktu 18 hingga 24 bulan setelah operasi.
Selain itu, beberapa manfaat lain yang bisa pasien dapat setelah melakukan prosedur operasi bariatrik, antara lain:
1. Mengatur hormon lapar
Tindakan bariatrik dapat menurunkan produksi hormon pemicu rasa lapar dan meningkatkan proses metabolisme tubuh. Tindakan ini dapat membantu pengaturan ulang program metabolisme tubuh guna mencegah naiknya berat badan.
2. Mengurangi gejala kencing manis
Operasi bariatrik dapat mengurangi gejala kencing manis (diabetes tipe 2) dengan cara membantu penurunan berat badan secara signifikan. Penurunan berat badan ini dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, hormon yang mengatur kadar gula darah.
Selain itu, beberapa prosedur bariatrik, seperti gastric bypass, juga dapat mengubah cara tubuh mencerna makanan, yang dapat mengatur gula darah lebih efektif.
3. Meningkatkan kualitas hidup seseorang
Prosedur operasi bariatrik dapat membantu meningkatkan kualitas hidup seseorang menjadi lebih sehat. Studi menyebutkan, tindakan bedah bariatrik dapat menurunkan risiko kematian karena komplikasi penyakit hingga 40 persen.
Cari tahu juga, ini Penyakit dan Prosedur yang Dilakukan Spesialis Bedah Digestif.
Prosedur Operasi Bariatrik
Apabila sudah memenuhi persyaratan untuk menjalani tindakan operasi bariatrik, dokter akan memberikan informasi terkait persiapan sebelum melakukan tindakan. Misalnya, perlunya menjalani pemeriksaan medis penunjang.
Selain itu, dokter juga dapat memberikan batasan asupan makanan maupun minuman tinggi serat dan konsumsi obat tertentu. Tak ketinggalan, pengidap juga sebaiknya mulai aktif secara fisik dan berhenti merokok.
Operasi bariatrik umumnya akan memerlukan anestesi umum, sehingga pasien akan berada dalam kondisi tidur selama prosedur berlangsung. Mayoritas tindak bedah bariatrik merupakan operasi terbuka dengan sayatan yang cukup besar pada bagian perut.
Seiring dengan perkembangan teknologi pada dunia kedokteran, operasi bariatrik sekarang dapat berlangsung melalui prosedur laparoskopi. Cara ini memungkinkan waktu pemulihan yang lebih singkat. Namun, tidak semua pasien bisa menggunakan metode ini.
Berikut penjelasan untuk setiap prosedurnya:
1. Bypass lambung
Bypass lambung merupakan prosedur operasi bariatrik yang umum. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi kapabilitas perut dalam menampung makanan dan menurunkan penyerapan nutrisi.
Dokter akan memotong perut bagian atas, lalu menutup kembali dari perut yang tersisa. Umumnya, kantong hanya dapat menampung setidaknya 30 gram makanan atau sebesar kenari. Padahal, perut yang normal dapat menampung makanan sampai tiga liter.
Selanjutnya, dokter memotong usus kecil dan menjahit sedikit pada bagian kantong. Jadi, makanan yang kamu konsumsi akan masuk pada kantong tersebut dan segera berlanjut ke usus halus.
Dalam kondisi normal, makanan harus melalui lambung dan usus kecil bagian pertama. Sedangkan setelah prosedur operasi, makanan langsung menuju ke usus kecil bagian tengah.
Cari tahu lebih jauh tentang prosedur operasi bariatrik pada artikel berikut ini: Mengenal Operasi Bariatric pada Pengidap Obesitas.
2. Gastrektomi sleeve
Cara selanjutnya yaitu melakukan pengangkatan sekitar 80 persen area perut, sehingga hanya tersisa kantong panjang yang ukurannya seperti tabung. Tindakan gastrektomi bertujuan untuk mengurangi total makanan yang dapat masuk ke perut.
Cara satu ini juga dapat mengurangi pembentukan hormon ghrelin yang bertugas untuk mengatur nafsu makan.
Namun, tidak sama dengan tindakan bypass, operasi bariatrik jenis ini akan memberikan hasil yang lebih signifikan, juga tidak ada perubahan pada rute usus. Selain itu, pasien juga tidak perlu menghabiskan waktu lebih lama untuk perawatan daripada prosedur lainnya.
3. Duodenal switch
Prosedur duodenal switch terdiri dari dua langkah. Langkah pertama mirip dengan prosedur gastrektomi, sementara langkah kedua melibatkan penyambungan bagian ujung usus ke duodenum yang dekat dengan perut.
Tujuan dari prosedur ini sama seperti dua prosedur sebelumnya, yaitu untuk mengurangi jumlah makanan yang bisa masuk ke perut sekaligus mengurangi penyerapan nutrisi oleh tubuh.
Namun, prosedur ini memiliki risiko tinggi menyebabkan kekurangan vitamin dan malnutrisi pada pasien.
Sebelum memutuskan tindakan operasi bariatrik, kamu bisa coba lakukan diet sehat untuk menurunkan berat badan. Diet bisa didukung dengan sejumlah obat yang rekomendasinya bisa kamu cari tahu pada artikel berikut ini: Ini 5 Rekomendasi Obat Diet yang Ampuh dan Aman untuk Turunkan Berat Badan.
Kandidat yang Tepat untuk Melakukan Operasi Bariatrik
1. Orang yang memiliki berat badan lebih besar dari 100 pon, atau 45 kilogram di atas berat badan idealnya.
2. Orang yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) lebih besar dari 40 atau BMI lebih besar dari 35, dengan komplikasi medis terkait obesitas. Contohnya seperti tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, apnea tidur, dan penyakit kandung empedu.
3. Orang yang tidak memiliki indikasi alkoholisme aktif, kecanduan narkoba aktif, atau gangguan kejiwaan besar.
Risiko Tindakan Operasi Bariatrik yang Mungkin Terjadi
Meski dapat membantu menurunkan berat badan secara signifikan pada pengidap obesitas kelas III, operasi bariatrik juga tidak lepas dari sejumlah risiko dan efek samping.
Tindakan bedah ini masuk pada kelompok bedah besar terbuka, sehingga risikonya bisa jadi lebih besar. Adapun risiko dan efek sampingnya termasuk:
- Infeksi. Infeksi bisa terjadi pada area luka setelah operasi bariatrik. Kondisi ini memerlukan pengobatan antibiotik atau prosedur medis untuk mengatasinya.
- Perdarahan. Perdarahan dapat terjadi selama atau setelah prosedur operasi, baik di area pembedahan atau di dalam tubuh. Pada beberapa kondisi, hal ini mungkin memerlukan transfusi darah.
- Muncul gumpalan darah. Gumpalan darah (deep vein thrombosis) dapat terbentuk setelah operasi. Hal ini berpotensi menyebar ke paru-paru (embolisme paru) dan mengancam nyawa.
- Mengalami hernia. Setelah operasi, pasien dapat mengalami hernia, kondisi keluarnya organ tubuh melalui lubang pada dinding tubuh yang lemah, terutama di area perut.
- Terjadi kebocoran anastomosis. Kebocoran anastomosis terjadi ketika sambungan antara bagian-bagian usus atau perut yang dioperasi tidak tertutup sempurna, yang bisa menyebabkan infeksi serius.
- Obstruksi pada usus kecil. Obstruksi usus kecil dapat terjadi jika ada penyumbatan atau perlekatan pada saluran pencernaan setelah operasi, yang dapat menyebabkan rasa sakit dan komplikasi lain.
Apa Kata Studi tentang Manfaat dan Komplikasi Operasi Bariatrik?
Sebuah studi berjudul Long-term effectiveness, outcomes and complications of bariatric surgery yang dipublikasikan oleh World of Clinical Cases (2023) membahas tentang efektivitas jangka panjang, hasil, dan komplikasi dari operasi bariatrik, yang merupakan prosedur bedah untuk membantu mengatasi obesitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, operasi bariatrik dapat menurunkan berat badan secara signifikan dan memperbaiki kondisi kesehatan yang terkait dengan obesitas, seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan gangguan tidur.
Namun, ada beberapa komplikasi jangka panjang yang mungkin muncul, seperti kekurangan gizi, masalah pencernaan, atau gangguan pada saluran pencernaan.
Meskipun demikian, banyak pasien melaporkan peningkatan kualitas hidup setelah operasi. Selain itu, manfaat dari penurunan berat badan seringkali lebih besar dirasakan pasien, daripada risiko komplikasi.
Jika masih memiliki pertanyaan seputar operasi bariatrik atau masalah kesehatan lainnya, kamu bisa tanyakan langsung pada dokter di Halodoc.
Cek dan download Halodoc langsung pada ponselmu dari App Store atau Play Store.

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Bariatric surgery.
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Bariatric surgery.
Verywell Health. Diakses pada 2025. Bariatric Surgery: Everything You Need to Know.
World Journal of Clinical Cases. Diakses pada 2025. Long-term effectiveness, outcomes and complications of bariatric surgery.
Frequently Asked Questions
1. Apa itu operasi bariatrik?
Operasi bariatrik adalah prosedur bedah yang dilakukan untuk membantu menurunkan berat badan. Biasanya tindakan medis ini direkomendasikan untuk pengidap obesitas yang tidak berhasil menurunkan berat badan dengan cara lain.
2. Harga operasi bariatrik?
Harga operasi bariatrik bervariasi tergantung pada jenis prosedur dan rumah sakit. Namun umumnya bisa mencapai antara 40 hingga 100 juta atau lebih. Biaya ini biasanya tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan standar.
3. Operasi bariatrik BPJS apakah bisa?
Operasi bariatrik umumnya tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Kecuali dalam kasus tertentu yang memenuhi kriteria medis, seperti obesitas yang mengancam kesehatan atau komplikasi berat lainnya.