Mengenal Ketindihan saat Tidur (Sleep Paralysis), Penyebab dan Cara Mengatasinya

9 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   03 Februari 2025

Sleep paralysis atau ketindihan saat tidur bisa dipicu oleh sejumlah faktor, seringkali stres.

Mengenal Ketindihan saat Tidur (Sleep Paralysis), Penyebab dan Cara MengatasinyaMengenal Ketindihan saat Tidur (Sleep Paralysis), Penyebab dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI

  1. Penyebab Sleep Paralysis
  2. Jenis-Jenis Ketindihan
  3. Gejala Sleep Paralysis
  4. Faktor Risiko Ketindihan
  5. Apa Kata Riset?
  6. Cara Mengatasi Ketindihan atau Sleep Paralysis
  7. Cara Mencegah Sleep Paralysis
  8. Hubungi Dokter Ini Jika Sering Mengalami Sleep Paralysis
  9. Kapan Harus ke Dokter?

Sleep paralysis atau ketindihan saat tidur adalah kondisi yang membuat seseorang tidak dapat bergerak atau berbicara saat terjaga atau sedang tertidur. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami transisi antara tidur dan bangun atau sebaliknya. 

Meskipun durasinya singkat, sleep paralysis dapat menimbulkan rasa ketakutan dan kebingungan yang signifikan pada orang yang mengalaminya. Ketahui informasi lebih dalam tentang kondisi ini!

Penyebab Sleep Paralysis

Ada sejumlah faktor yang disinyalir memicu seseorang merasakan ketindihan. 

Kekurangan tidur, seringnya begadang dan perubahan jadwal tidur bisa memicu terjadinya sleep paralysis

Selain itu, gangguan mental seperti tekanan dan stres juga termasuk faktor pemicunya.

Sebagian besar penelitian mengungkapkan kalau sleep paralysis sering terjadi pada individu yang mengalami gangguan mental, termasuk schizophrenia. 

Posisi tidur juga dapat berperan, khususnya tidur dengan posisi terlentang.

Selain itu, masalah tidur seperti narkolepsi dapat mengganggu fase tidur REM, sehingga meningkatkan risiko mengalami sleep paralysis. 

Lantas, benarkah Sleep Paralysis alias Ketindihan Sebabkan Mimpi Buruk, Mitos atau Fakta? ketahui penjelasannya pada artikel ini.

Jenis-Jenis Ketindihan

Ketindihan dapat dikategorikan ke dalam dua jenis utama, yaitu:

1. Ketindihan Isolated Sleep Paralysis (ISP):

Terjadi secara sporadis tanpa gangguan tidur lain. Kondisi ini bisa disebabkan oleh kelelahan, stres, atau pola tidur yang tidak teratur.

2. Ketindihan Recurrent Isolated Sleep Paralysis (RISP):

Jenis ketindihan ini umumnya terjadi secara berulang dan bisa menjadi bagian dari gangguan tidur lain, seperti narkolepsi.

Biasanya lebih mengganggu dan bisa berdampak pada kualitas tidur secara keseluruhan.

Gejala Ketindihan atau Sleep Paralysis

Berikut berbagai gejala ketindihan yang umumnya terjadi:

  • Tidak mampu bergerak atau berbicara.
  • Sensasi tertekan di dada atau kesulitan bernapas selama episode sleep paralysis.
  • Mengalami pengalaman visual atau auditori yang tidak biasa, seperti melihat bayangan atau mendengar suara yang sebenarnya tidak ada.
  • Meskipun terasa menakutkan, episode sleep paralysis umumnya bersifat sementara dan berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.
  • Sensasi kesemutan atau getaran di tubuh.
  • Perasaan takut atau kecemasan yang intens.
  • Terjadi saat seseorang sedang memasuki atau keluar dari fase tidur Rapid Eye Movement (REM). Fase ini merupakan saat di mana mimpi intens terjadi dan otot-otot mengalami relaksasi total.
  • Beberapa orang dapat mengalami sleep paralysis secara berulang, dengan episode yang sama.
  • Kejadian ini dapat memengaruhi kualitas tidur dan kesejahteraan psikologis.

Faktor Risiko Ketindihan

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengalami sleep paralysis meliputi:

  • Sleep paralysis umumnya terjadi pada remaja dan orang dewasa muda.
  • Memiliki riwayat keluarga yang sering mengalami sleep paralysis.
  • Mengidap gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea.
  • Mengidap kecemasan dan depresi 

Apa Kata Riset?

Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Psychiatry Residents mengungkapkan bahwa sleep paralysis, atau ketindihan, sering dikaitkan dengan gangguan neurologis seperti narcolepsy dan beberapa kondisi psikiatrik termasuk PTSD dan gangguan panik. 

Gejala umum yang dialami selama episode termasuk halusinasi dan ketidakmampuan untuk bergerak, yang dapat sangat mengganggu. 

Studi juga menyoroti pentingnya mempertimbangkan faktor budaya dalam diagnosis dan pengobatan, karena pengalaman dan interpretasi sleep paralysis bisa sangat berbeda di berbagai budaya.

Riset lebih lanjut menunjukkan bahwa intervensi seperti terapi perilaku kognitif dan terapi relaksasi meditasi bisa bermanfaat, meskipun bukti empiris masih terbatas. 

Penting untuk mendekati pengobatan dengan sensitivitas budaya yang tinggi dan memberikan edukasi yang dapat mengurangi perasaan malu dan ketakutan pada pasien. 

Cara Mengatasi Ketindihan atau Sleep Paralysis

Sleep paralysis biasanya bersifat sementara dan dapat diatasi dengan beberapa cara, seperti:

  • Jangan panik, karena ketindihan biasanya hanya berlangsung beberapa detik hingga menit.
  • Bernapas secara perlahan dan dalam dapat membantu mengatasi ketakutan dan mempercepat pemulihan dari ketindihan.
  • Gerakan jari atau kaki secara perlahan selama episode. Ini dapat membantu mengakhiri sleep paralysis lebih cepat.
  • Jika memungkinkan, lakukan sedikit gerakan di dalam mulut bisa membantu memulihkan kontrol tubuh.
  • Ingat bahwa ini hanya sementara. Ketindihan bukan sesuatu yang berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya.
  • Jaga jadwal tidur agar tetap teratur dan ciptakan lingkungan tidur yang nyaman.

Selain menerapkan tips di atas, Ini 6 Cara Ampuh agar Bisa Cepat Tidur yang perlu kamu tahu. 

Cara Mencegah Sleep Paralysis

Meskipun tidak selalu dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi risiko sleep paralysis:

  • Tidur miring lebih disarankan karena posisi terlentang sering dikaitkan dengan ketindihan.
  • Tidur kurang dari 6-7 jam per malam dapat meningkatkan risiko sleep paralysis.
  • Kurangi konsumsi kafein atau alkohol sebelum tidur, karena dapat mengganggu siklus tidur.
  • Hindari menggunakan gadget sebelum tidur. Cahaya biru dari layar gadget bisa menghambat produksi melatonin, hormon yang mengatur tidur.
  • Jika mengalami insomnia atau gangguan tidur lain, konsultasikan dengan dokter untuk pengobatan lebih lanjut.

Jika sleep paralysis menjadi masalah berulang, konsultasikan dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Hubungi Dokter Ini Jika Sering Mengalami Sleep Paralysis

Jika kamu sering mengalami ketindihan saat tidur, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter di Halodoc untuk mendapatkan penanganan dan tips yang tepat dan maksimal. 

Dokter spesialis di Halodoc memiliki pengalaman selama bertahun-tahun dan telah mendapat rating yang baik dari pasien-pasien sebelumnya yang mereka tangani.

Nah, berikut ini daftar dokter yang bisa kamu hubungi:

1. dr. Hidayaturrahmi Sp.N

Dokter spesialis di Halodoc yang bisa membantu kamu mengatasi ketindihan saat tidur adalah dr. Hidayaturrahmi Sp.N. 

Ia adalah seorang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala pada tahun 2009 dan 2021. 

Dokter Hidayaturrahmi Sp.N telah terdaftar sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dengan nomor STR 1121605421108828 dan kini berpraktik di Banda Aceh.

Dengan pengalaman 15 tahun sebagai dokter spesialis saraf, dr.  Hidayaturrahmi Sp.N siap memberikan solusi dalam menangani ketindihan saat tidur.

Ia juga dapat melayani konsultasi seputar pengobatan nyeri sendi, vertigo, maupun stroke.

Chat dr. Hidayaturrahmi Sp.N Mulai dari Rp59.000,- di Halodoc.

2. dr. Lifea Sp.S

Kamu juga bisa menghubungi dr. Lifea Sp.S untuk mendapat penanganan sleep paralysis lebih lanjut.

Dokter Lifea Sp.S memperoleh gelar dokternya dari Universitas Udayana pada tahun 1995 dan Universitas Airlangga pada tahun 2004.

Saat ini, ia menjalani praktik di Badung, Bali dan juga tercatat sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dengan nomor STR 3521605421057492. 

Berbekal pengalaman selama 28 tahun, dr. Lifea Sp.S akan membantu kamu dalam meredakan gejala sleep paralysis. 

Selain itu, kamu juga bisa berdiskusi dengan dr. Lifea Sp.S terkait penanganan nyeri punggung, mati rasa, dan gangguan keseimbangan.

Chat dr. Lifea Sp.S Mulai dari Rp100.000,- di Halodoc.

3. dr. Wid Patria W. Sp.S

Dokter rekomendasi berikutnya yang juga dapat membantu kamu mengatasi sleep paralysis adalah dr. Wid Patria W. Sp.S

Dokter Wid Patria W. Sp.S adalah seorang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada tahun 1988 dan Universitas Indonesia tahun 1998.

Kini, ia membuka praktik di Balikpapan, Kalimantan Timur dan merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) dengan nomor STR HK00000114325575. 

Dengan pengalaman 37 tahun, dr. Wid Patria W. Sp.S dapat kamu percayai dalam mengurangi gejala sleep paralysis beserta risikonya. 

Tak hanya itu, dr. Wid Patria W. Sp.S juga bisa memberikan layanan seputar pengobatan nyeri sendi dan punggung, mati rasa, nyeri otot, vertigo dan gangguan keseimbangan, serta stroke.

Chat dr. Wid Patria W Sp.S Mulai dari Rp175.000,- di Halodoc.

Dokter spesialis di atas siap membantu kamu dalam menangani maupun mencegah terjadinya sleep paralysis.

Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter kapan saja dan di mana saja.

Tak perlu khawatir jika dokter terlihat sedang offline atau tidak tersedia. Sebab, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, konsultasikan dengan dokter di Halodoc sekarang juga!

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun ketindihan umumnya tidak berbahaya, seseorang perlu berkonsultasi dengan dokter jika:

  • Ketindihan terjadi sangat sering yakni beberapa kali dalam seminggu atau sebulan).
  • Mengganggu kualitas tidur dan menyebabkan kecemasan yang berlebihan.
  • Ada tanda gangguan tidur lain, seperti kantuk ekstrem di siang hari atau tiba-tiba tertidur tanpa sadar.
  • Disertai dengan gejala lain seperti nyeri dada atau gangguan pernapasan serius.
  • Mengalami stres atau trauma emosional akibat ketindihan dan halusinasi yang menyertainya.

Itulah penjelasan seputar ketindihan atau sleep paralysis yang perlu kamu ketahui. Jika kamu mengalami kondisi ini, hubungi dokter di Halodoc saja. 

Mereka bisa memberikan informasi dan saran perawatan yang tepat. Tunggu apa lagi? Pakai Halodoc sekarang juga!

Referensi:
American Academy of Sleep Medicine. Diakses pada 2024. Sleep Paralysis.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Sleep Paralysis.
American Journal of Psychiatry Residents. Diakses pada 2025. Sleep Paralysis: A Brief Overview of the Intersections of Neurophysiology and Culture.